![]() |
| image credits belongs to BLANKA |
Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari celetukan teman facebook mengenai pernikahan muda di statusnya. Belakangan ini, perbincangan soal pernikahan muda memang sedang menjadi topik yang populer, nyaris di setiap linimasa media sosial, saya pasti menemukan hal-hal yang berkaitan dengan nikah muda. Entah itu imbauan untuk melakukan dan tidak melakukan atau diskusi segelintir orang yang memang peduli. Saya adalah salah satu yang peduli, sebenarnya. Hal tersebut tidak semata-mata didasarkan karena kepopuleran topik ini ya. Jauh sebelum berita penikahan anak kyai itu tersebar, saya memang selalu menentang pernikahan di usia dini.
Alasannya bukan karena waktu kecil saya dicekokin bacaan sastra soal siti nurbaya sama mama saya sih, bukan, bukan. Di daerah saya, pernikahan di usia muda bukanlah hal yang aneh. Perempuan seolah tidak memiliki pilihan lain selain menikah atau menjadi beban bagi keluarganya selepas lulus dari sekolah. Sekolahnya juga enggak tinggi-tinggi amat loh, SMA paling-paling, itu juga sudah syukur. Kebanyakan orangtua punya mindset "Sekolah mengeluarkan uang, bekerja menghasilkan uang." padahal, salary yang bisa mereka peroleh dari pekerjaan untuk latar belakang pendidikan sebatas bangku SMP atau SMA memang sebesar apa sih? UMR saja belum tentu terjangkau.
Ketika saya membaca berita soal pernikahan anak sulung dari ulama tersebut lewat laman feminimse di facebook, saya pun jadi tergelitik untuk berkomentar. Penulis post tersebut membuat caption kira-kira seperti ini:Bagi yang masih jomblo, seharusnya malu ama dhe Alvin dan larissa yang baru berumur 17th tapi sudah berani mengambil kesempatan untuk membina rumah tangga yang samara. Alhamdulillah..Ternyata, menikah itu, ukurannya adalah "mampu". Bukan usia.Bagi yang masih jomblo, seharusnya malu ama dhe Alvin dan larissa yang baru berumur 17th tapi sudah berani mengambil kesempatan untuk membina rumah tangga yang samara. Alhamdulillah..
Ternyata, menikah itu, ukurannya adalah "mampu". Bukan usia.
Saya pun berkomentar cukup banyak. Selain menimpali apa yang dikatakan si pembuat post saya pun memberikan tanggapan terhadap komentar-komentar lain yang muncul di post tersebut. Beberapa orang tidak acuh pada berita ini dan mengatakan, "Itu urusan mereka, kita tidak harus ikut campur."; ada yang memberikan dukungan secara eksplisit dengan mengatakan bahwa pernikahan muda lebih baik dilakukan untuk menghindari zina, ada juga yang memberikan dukungan secara implisit melalui komparasi bahwa lebih baik menikah muda ketimbang melakukan seks bebas di usia yang sama-sama di bawah umur; sisanya keberatan dengan pernikahan di usia muda dengan dasar ketidaksiapan pasangan dari berbagai hal. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, saya termasuk orang yang peduli dan juga keberatan.
Kita tidak boleh abai, pertukaran perspektif memang perlu dilakukan untuk melihat sisi positif dan negatif dari kasus ini. Saya tidak mengerti kenapa pernikahan selalu dijadikan landasan untuk menghindari zina, seolah-olah pernikahan hanya dilakukan untuk melegalkan seks. Saya juga tidak mengerti kenapa pernikahan dianggap bisa menjauhkan kita dari fitnah, seolah-olah isi pikiran manusia memang hanya dipenuhi prasangka buruk saja. Apabila saya analogikan dengan hujan, ada banyak cara untuk menghindarinya. Tidak hanya dengan payung, kita bisa menggunakan jas hujan. Kita pun dapat memprediksikan kedatangannya melalui berita di televisi atau ramalan cuaca di smartphone, dosa-dosa pun demikian adanya, apa sekiranya hal yang bisa mendekatkan kita dengan dosa, ya jangan dilakukan. Pacaran katanya gerbang menuju perzinahan maka dari itu sebaiknya menikah saja dari pada pacaran. Saya masih bisa setuju dengan statement tersebut, tetapi enggak menikah di usia muda juga kali, bung.
Jujur saja, saya memandang pernikahan dini sebagai kerangkeng. Di usia muda, mereka masih memiliki banyak peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri mereka. Memang sih, tidak ada yang mengatakan bahwa perempuan atau lelaki yang sudah menikah itu tidak boleh sekolah dan bergaul. Boleh kok, tapi perlu diingat bahwa dengan status mereka yang baru, mereka memiliki tanggungjawab yang lebih besar. Syukur-syukur jika bisa melakukan keduanya, jika tidak? Hayo bagaimana?
Kedewasaan memang tidak melulu soal umur. Seorang laki-laki berusia 45 tahun pun bisa lebih kekanakan ketimbang perempuan berusia 25 tahun. Meskipun demikian, saya rasa pengalaman tidak memiliki prinsip yang sama. Mau tidak mau kita harus sadar bahwa pengalaman selalu berkaitan dengan umur. Pengalaman manusia yang hidup selama 17 tahun tidak akan sama dengan pengalaman manusia yang hidup selama 25 tahun, saya rasa. Pengalaman tersebut dibutuhkan dalam proses pendewasaan. Kesakitan membuat seseorang menjadi besar, bukan?
Saya juga tidak mengerti dengan poin penulis post tersebut yang mengatakan "Bagi yang masih jomblo, seharusnya malu." Mengapa harus malu? What's wrong with being single? Status lajang bukanlah aib. Lebih baik melajang dan bahagia ketimbang menikah tetapi lara.
Saya tidak melabeli pernikahan yang dilakukan oleh Alvin dan Larissa ini sebagai suatu hal yang tidak pantas. Tidak sama sekali. Barangkali mereka memang sudah mampu dan sudah mantap melakukan pernikahan tetapi, komentar memang harus dilontarkan agar masyarakat bisa mempertimbangkan apakah hal ini bisa dicontoh atau tidak. Sebab ada pula ternyata yang berkomentar seperti
Ust arifin ilham sdh.memberikan Contoh terbaik semakin silahakan ortu lain melanjutkan tradisi mulia nan agung ini.....Kereeeeeeen habizzzzzzzz simpatik bin saluuuuuut###!
Perlu diingatkan bahwa hal ini bukanlah suatu tradisi yang mulia atau agung. Ini hanya suatu tindakan dan tidak perlu dijadikan tradisi apabila tidak mampu. Ustadz Arifin tidak harus menikahkan anak-anaknya yang lain di usia 17 tahun, orangtua lain pun demikian. Dari beberapa informasi juga klarifikasi yang dilakukan oleh Alvin sendiri, orangtuanya tidak ikut campur dalam pernikahannya. Ia memutuskan sendiri dan orangtuanya memberikan izin karena berbagai pertimbangan juga, barangkali.
Saya khawatir, komentar-komentar seperti ini menjadi pelatuk kembalinya tradisi nikah muda di Indonesia. Tentunya kita ingat bagaimana pernikahan muda ditentang dan ditolak dulu, sedang sekarang malah dilambungkan kembali. Kita tidak bisa abai dengan mengatakan bahwa semua ini bukan urusan kita, suka-suka mereka, tidak bisa. Biar bagaimanapun Arifin Ilham dan keluarganya adalah figur publik yang diidolakan masyarakat. Bukan tidak mungkin setelah ini salruan televisi dirajai sinteron dan ftv mengenai pernikahan dini dan masyarakat kita menjadi tidak segan untuk menikahkan anak di usia muda sekalipun belum mampu.
